Tragedi Cinta
This is real,,
This is me…
I’m exactly where I’m supposed to be now
Gonna let the light
Shine on me…..
Aku menyanyikan lagu yang menjadi sound track film Camp rock itu dengan piano tuaku. Aku terus menyanyikannya dan tanpa ku sadari aku meneteskan air mata. Ku tak tahu mengapa, namun hatiku terasa sangat sakit, pedih, dan tak seorangpun dapat menyembuhkannya. Ya, tiap kali aku menyanyikan lagu ini, aku selalu teringat dengan tatapannya, senyumnya, suaranya, dan wajahnya. Dia yang sekarang telah meninggalkanku, bukan karena dia tidak mencintaiku, bukan karena dia menelantarkanku, dan bukan karena dia adalah seorang laki-laki playboy seperti kebanyakan orang berkata, namun dia pergi untuk selamanya. Dia meninggalkanku sendiri dan selalu terpendam dalam kesedihan yang tak
Hari ini aku akan masuk ke sekolah seperti biasa. Kalau semua orang, terutama yang masih duduk di bangku pendidikan suka dengan libur panjang di mana mereka bisa santai, menonton televisi sampai lupa waktu, atau mungkin memanjakan diri mereka ke spa atau salon, atau apa pun yang sering orang lakukan ketika liburan, berbeda denganku aku tak suka libur panjang. Menurutku, libur panjang adalah cara yang paling tepat untuk menggemukkan badan dan aku tak suka itu. Libur panjang juga membuat orang malas, maka aku lebih suka sekolah. Di mana aku bisa bertemu dengan sahabat-sahabatku, dengan guru-guru, dengan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi masa depanku, dan juga dengan orang yang selalu menjadi sainganku dalam semua mata pelajaran, Jojo.
“ Ok, class, please take your revision paper, ‘cause today I will give you mathematic revision chapter exponent,” kata Bu Dewi guru matematikaku. Ia menggunakan bahasa Inggris, karena ia adalah guru matematika untuk immercion class. Ku lihat teman-temanku gugup, mereka tampak belum siap dan ketakutan. Jujur saja, Bu Dewi adalah guru paling killer ( galak ) di sekolahku. Tapi, aku tidak merasa takut. Aku selalu siap ulangan setiap saat. Ya, aku termasuk seorang yang cerdas dan aktif di kelas. Banyak guru yang menganak emaskan aku. Tapi, aku hanya menjadi seorang runner-up ( juara 2 ) di kelasku. Aku tak pernah tahu mengapa aku selalu kalah dengan Jojo. IQ sama-sama jenius, kita sama-sama manusia, mama juga memberiku makan makanan yang sama dengannya. Tapi, aku selalu kalah dengannya. Awalnya, aku menganggap dia hanya seorang anak laki-laki biasa yang misterius dengan IQ yang tidak terlalu tinggi, wajah yang tampan, dengan penggemar-penggemar yang selalu mengejarnya dan pemalas. Dia memang tidak pernah mengerjakan tugas, namun semua nilai-nilainya di atas nilaiku. Penilaian guru terhadapnya selalu perfect. Walaupun kepadaku juga. Tapi, aku merasa aku tidak seperfect dia.
Setiap hari aku belajar keras, namun tetap saja aku kalah. Terkadang aku ingin mendekatinya, mengajaknya berteman atau bersahabat, tapi dia selalu mengelak dariku. Aku tak tahu mengapa dia berlaku seperti itu terhadapku. Kadang aku bertanya apa aku pernah berbuat salah dengannya, atau apalah. Aku tak pernah tahu.
“ Lia, Li,…” ku dengar seseorang memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh ke belakang. “ Dina, kenapa Din?” ternyata Dina ,sahabatku selama 15 tahun. Dia menghampiriku dengan nafas terengah-engah. “ Lihat ni, nilai mat mu dapet cepek,” katanya sambil menyodokan kertas ulangan matematikaku. Ku lihat angka 100 tertera pada kertasku. Oh, Tuhan terima kasih. Aku tersenyum melihat nilaiku. “ Trus, siapa lagi yang dapet nilai 100 selain aku, Din?” tanyaku pada Dina dan berharap Jojo tidak mendapat nilai yang sama sepertiku. Namun jawaban Dina membuat bibirku manyun, “ Ya, kayak biasalah kamu ma Jojo yang dapet nilai cepek. “ Uh, lagi-lagi Jojo. “ Oh, Jojo. Okey baguslah klo gitu. Mm, btw, aku pergi ke cafetarian dulu ya. Mau ikut?” tanyaku pada Dina. “ Nggak ah, aku ke kelas aja mau yayang-yayangan dulu ma Krisna,” jawabnya singkat, padat, dan jelas sambil meninggalkanku.
Aku berjalan menyusuri sekitar koridor ruang seni musik. Ku dengar seseorang memainkan alat musik. Aku pikir itu kedengaran seperti denting piano. Aku membuka pintu ruang musik dan mendengarkan lagu yang dinyanyikan.
You’re the voice I hear inside of me
The reason that I’m singing
I need to find you
I gotta find you
You’re the missing piece I need
The song inside of me
I need to find you
I gotta find you.
Suara itu begitu indah, membuat hatiku tenang sekaligus seperti mengingat sosok seorang Joe Jonas Brother, penyanyi asli lagu tersebut. Aku menyipitkan mataku, tiba-tiba aku tersentak. Tak ku sangka, suara indah yang serak-serak basah itu adalah suara Jojo. Oh, my God. Aku segera berlari dan…. Ahhh, sial aku terpeleset. Aku merintih kesakitan. Ku lihat ada seseorang yang mendekat. “ Jojo,…” kataku sambil melongo sekaligus menahan sakit. “ Lia,? Ngapain kamu di sini? Ya, ampun, sini biar aku Bantu..” katanya sambil meraih tanganku. “ Uppz, kaki kamu berdarah. Aku gendong kamu aja, ya ,ke UKS.” Ya, ampun, ternyata aku salah perkiraan. Orang yang aku benci selama ini, ternyata dia sangat baik padaku.
Sesampainya di UKs, Jojo mengambil obat merah dan kapas. Dia mengobatiku dengan penuh kesabaran. Jantungku berdebar kencang, aku menatapnya lekat dan tak berkedip sedikitpun. “ Kenapa?
Aku duduk di pinggir taman. Di depan ku ku lihat sesosok laki-laki tampan. Ya, Jojo dan aku duduk di taman berdua. Jojo mengajakku untuk mendengarkan lagu yang akan dia nyanyikan untukku. Dia mulai memegang dan memainkan akord-akord serta melodi-melodi dari gitar itu. Dia menyanyikan sebuah lagu yang aku dengar kemarin siang di ruang musik. Ya, lagu sound track film camp rock. Dia menyanyikannya hingga lagu itu habis dengan suara lembutnya. Dia menatapku dengan tatapannya yang tajam membuat jantungku berdebar kencang. Sampai petikan terakhir, dia menatapku. “ Mm, kenapa kamu ngeliat aku kayak gitu?
Ku lihat dia menatapku tajam, dia semakin mendekat, mendekat, dan terus mendekat sampai kira-kira tiga sentimeter jaraknya dengan tempat aku berdiri. Secara otomatis aku menutup mataku. Tapi, tidak ada sesuatu yang terjadi seperti di film-film saat seorang laki-laki menahan wanitanya. Oh, Tuhan , aku sudah berpikir macam-macam. Segera ku hapus pikiran lebayku dan aku membuka mataku. Lagi-lagi ku lihat tatapan itu. “ You’re perfect for me. Everytime I see you, my life never broke and my soul wake up from the die….” Aku terkejut ketika ia mengatakan hal itu. Kata-katanya terputus dan… “ I Love you” Aku hampir saja rubuh, mataku melotot kaget, tak satupun kata terucap dari bibirku, seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Tapi, tangan hangat itu menggenggam erat tanganku yang membeku. “ Would you please to be my girl?” lanjutnya lagi. Aku tetap terpaku. “ Li, please, terima aku jadi pacar kamu. Aku sayang kamu, aku…” “ Sssst,” jari lembutku menempel di bibir merahnya yang basah… “ I love you too, my prince,” Aku menjawabnya, aku mengatakan perasaan ini. Dia tersenyum, memandangku, dan auu,, dia menggendongku.
Tak terasa tiga tahun sudah kami berpacaran. Kurasa Jojo adalah pacar yang baik untukku. Tak pernah ada satu kata permintaan yang “ macam-macam “ keluar dari mulutnya. Kami melewati hari-hari kami dengan bernyanyi, menciptakan lagu, dan musik. Semakin hari kami semakin akrab. Tak pernah sekalipun Jojo marah padaku, atau sebaliknya aku marah pada Jojo hanya karena Jelous. Orang tuaku menyanyanginya seperti anak sendiri, begitu juga dengan orang tua Jojo. Mereka sangat memanjakanku. Kadang aku berdoa, Tuhan biarlah aku bisa hidup selamanya dengan kekasihku, Jojo.
Waktu berjalan begitu cepat, kami menempuh ujian Nasional dengan lancar, tanpa ada satu masalahpun. Aku pun wajib berbangga, karena aku telah diterima di salah satu Universitas bergengsi dunia, yaitu
Hari-hari terakhir di sekolah diisi dengan pembuatan catalog, latihan-latihan untuk festival bakat, dan tentu saja latihan berdansa. Tak perlu dipertanyakan lagi, tentu saja couple dance ku adalah Jojo. Lagi-lagi aku wajib berbangga dngan semua yang sudah aku dapatkan. Semua cewek ingin berdansa dengan Jojo, tapi akulah cewek pilihannya… How lucky girl I am !.
Malam ini adalah malam kenangan sekaligus malam perpisahan yang diadakan sekolahku. Mama sudah membawaku ke salon. Aku sudah make-up, rambut panjangku sudah di curly, aku juga mengenakan short dress biru yang di belikan papa kemarin dan higheels putih. Aku terlihat cantik. Bahkan aku heran melihat diriku sendiri. Aku tersenyum.
Tinn … Tinn… ku dengar suara klakson mobil Jojo. Aku mencium pipi mama dan bergegas lari ke halaman secepat yang aku bisa. Kulihat sesosok tampan dengan hem panjang bergaris bewarna biru tua yang senada dengan warna short dressku. Rambutnya acak di bagian belakang. Ya, dia Jojo. Dia terlihat tampan sekali dengan baju itu. Tak tahu mengapa aku merasa sangat merindukannya. “ Hai, Li…” Suara lembutnya membuyarkan lamunanku. “ Oh, Hai..” “ Wau,, you look more beautiful than usual.” Katanya. “ Thanks a lot. Mm, so, that usual day I look not beautiful your mean??” tanyaku penasaran. “ Ya, nggak lah, aku Cuma bermaksud buat muji kamu. Kamunya sih yang sensi,” jawabnya. “ iya, iya. Jangan ngambek gitu dong, kamu kelihatan cool juga, kok.” “ Hah, cuma cool aja ma gag cukup. Tambah…tambah..” “ Ya, udah ganteng banget. Pangeran Wiliam aja kalah deh ma kamu… hahaha..” kataku setengah tertawa geli melihat wajah yang memelas itu. Dia pun tersenyum dan mengajakku segera masuk ke dalam mobil.
Mobil Merci hitam itu melaju cepat di hamparan jalan raya yang luas itu. Aku menatapnya lekat. Tak tahu apa yang ku rasakan sekarang. Tiba-tiba aku merasa takut kehilangannya. Tak terasa kami sudah sampai di parkiran hotel Horison. Kami melaju ke Convention hall Horison dengan cepat. Jojo menggenggam tanganku erat. Tak biasanya dia begini. Namun, aku menenangkan perasaanku seolah tak terjadi apa-apa.
Kami menuju ke Convention Hall. Semua orang takjub melihat kami. Mungkin mereka heran. Tatapan mereka membuat kepala ku menjadi besar, mungkin juga membuat pakaianku menjadi sesak. Hahahaha…
Acara demi acara berlangsung seru. Sekarang tibalah acara yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua siswa, yaitu romantic dance. Aku dan Jojo menempatkan diri di posisi kami masing-masing. Belum saja dimulai, tanganku terasa membeku dan bergetar. Tapi, tangan hangat itu memegang erat tanganku. Ku dengar alunan musik lembut, dan tangan itu mulai memegang tubuhku. Kami berdana. Ya, aku juga memeluknya erat, begitu juga dengannya.. kami berdansa dan terus berdansa dan dia memelukku erat hingga aku susah untuk bernafas. Ku dengar nafas yang terengah-engah. Aku mulai panic. “ kenapa Jo?” “ Lia, aku cinta kamu, maafin aku….” Tiba-tiba pelukan itu menjadi longgar dan Jojo jatuh tergeletak di depanku. Mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, wajahnya sangat pucat. Secara otomatis aku menangis dan berteriak minta pertolongan.
Jojo segera dilarikan ke rumah sakit. Dia diperiksa di ruang UGD. Aku segera menelepon kedua orang tuanya. Beberapa menit kemudian, kedua orangtua Jojo datang mendekatiku dengan wajah pucat karena panic. “ Lia, gimana keadaannya Jojo, sayang?” Tanya mama Jojo kepadaku. Ku ceritakan semua kejadian yang aku lewati bersama Jojo hari itu. Sampai akhirnya, mama Jojo menunduk dengan wajah sedih seperti menyembunyikan sesuatu dariku. “ Tante, kenapa tante?” aku brtanya dengan sangat lugu. Mama Jojo menangis. DIa mulai bercerita,” Sebenarnya selama ini Jojo megidap penyakit kanker darah atau leukimia stadium akhir…” jantungku berdebar kencang, air mataku mulai berlinang. “ Maksud tante apa? Tante nggak serius
Dear Lia,
Lia thanks banget ya, kmu udah jadi pelita buat hidup aku yang gelap ini. Kamu adalah harmoni dalam melodi yang begema di kepalaku Sebuah suara utama di atas keributan dan seperti benang merah, kau menarik hidupku yang suram dan penuh penyesalan ini. Thanks a lot…. I always love and miss you ever and ever….
Love,
Jojo.
Au meneteskan airmataku yang mulai jatuh deras. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Kenapa sih Jo kamu gaga pernah cerita ma aku kalo kamu punya penyakit??? Kenapa??? Kenapa??? Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Ak tak bisa memaafkan diriku , jika terjadi sesuatu yang buruk pada Jojo.
Tiba-tiba pintu ICU di buka… Kami segera melaju dengan kecepatan kilat kea rah dokter. “ Gimana dokter keaadaan anak saya?” Tanya papa Jojo. “ Iya, dokter gimana keadaan Jojo?” Sambungku. Wajah dokter itu muram dan berkata..” Maaf, Pak, Bu keadaan jojo sangat kritis. Kita harus terus beroa untuk Jojo dan maaf tadi Jojo memanggil nama Lia. Siapa yang bernma Lia?” aku langsung menunjukkan jari telunjukku sama seperti saat aku di absent guruku di kelas. Aku masuk ke ruang itu. Ku lihat Jojo terduduk dengan wajah pucatnya. “ Jojo, kok kamu malah duduk sih, jangan kamu istirahat aja. Ntar kmau sakit lagi lho.
Aku mendorong kursi roda itu ke ruang piano. Aku duduk di kursi piano bersama Jojo. Kami mulai berduet. Jojo memegang tuts piano sebelah kiri untuk akord dan bass, sedangkan aku memegang tuts piano sebelah kanan untuk melodi. Aku mulai bernyanyi..
Do you know what is like
To feel so in the dark
To dream about life
When you’re the shining star
Even thought is seem
Like is to far away
I just believe in my self is the only way
Air mataku mulai menetes lagi. Tapi, aku terus memainkan melodi dari tanganku. Ku lanjutkan syair lagu itu dengan ditambah suara Jojo. Indah sekali.
This is real
This is me, I’m exactly where I’m supposed to be now
Gonna let the light
Shine on me
Now I found who I am
Theres no way to hold it in no more hiding who I wanna be..
This is me…
Lagu itu menjadi semakin indah, ketika Jojo menyanyi solo.
You’re the voice I hear inside of me..
Dia mulai meneteskan air mata, begitupun aku.
The reason that I’m singing
I need to find… you
I gotta .. f..find you…
Jrengg….!! Jojo tertidur di piano. Dia pingsan. Lagi-lagi mulutnya mengeluarkan darah. Namun lebih banyak dari sebelumnya. Aku menjerit sekeras mungkin. Aku menangis sambil bereteriak-teriak.. Jojo sudah pergi.. Dia pergi meninggalkanku selamanya… Jojo, jangan tinggalkan aku.
“ Sweety, come on. We go to university together. I think after school, we can have a lunch, Can’t you?” Suara itu membuyarkan lamunanku. Ya, dia adalah calon tunanganku, Eric. Dia orang Inggris. Dan kami siap bertunangan beberapa bulan lagi. Meski aku mencintai Eric, tetapi aku di hatiku tetap ada Jojo. Selamat tinggal, jojo. You never loose in my mind and always here… in my special place,, my heart…!!
***
Rannie..